Ads Top


Catatan Pengajar #3: Buat Mereka Mencintaimu

Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain.
Begitulah yang saya yakini. Dan hal itu telah menjadi sebuah prinsip hidup yang selalu saya junjung tinggi, yang kemudian membawa saya untuk terlibat penuh dalam Gerakan Kendari Mengajar. Dulu, ketika masih kecil, saya pernah bercita-cita menjadi seorang guru. Namun, ketika menginjak usia Sekolah Menengah Pertama, bidang hukum menjadi hal yang menarik bagi saya—yang kemudian tumbuh dan berkembang menjadi salah satu passion hidup saya. Cita-cita masa kecil saya pun bergeser cukup jauh. Saya ingin menjadi pengacara.
Meski demikian, mengajar, tetaplah hal yang sangat saya senangi. Saya percaya, dengan mengajar ilmu seseorang akan bertambah. Menjadi seorang pengajar, seseorang akan selalu dituntut untuk mengetahui banyak hal. Dituntut untuk dapat menjawab banyak pertanyaan. Dan bukankah setiap orang, pada akhirnya, akan menjadi seoarang pengajar? Pengajar untuk diri mereka sendiri, untuk teman-temannya, keluarganya, dan anak-cucunya?

Terlibat dalam Gerakan Kendari Mengajar tidak serta merta menjadikan saya seorang pengajar. Saya lebih banyak terlibat dalam hal teknis penyelenggaraan proses belajar-mengajar. Hal-hal di balik layar. Berhadapan dengan adik-adik asuh dan mengajari mereka adalah tugas para pengajar yang sama sekali tidak pernah saya sentuh. Tapi saya menyadari, bahwa ketika saya terlibat dalam Gerakan Kendari Mengajar, akan tiba masanya di mana saya pun akan berdiri di hadapan adik-adik asuh kami, dan menjadi Yang Mengetahui Banyak Hal. Seringkali, saat memikirkan itu, saya pun merasa gentar. Tapi saya sudah melangkah. Sudah cukup jauh untuk merasa gentar.

Januari adalah masa libur semester. Sebagian besar volunteer—termasuk pengajar—Kendari Mengajar yang berasal dari daerah, akan mudik ke kampung halaman. Membawakan cerita-cerita membanggakan bagi keluarganya. Melepas rindu dan meminta doa untuk semester berikutnya. Hal ini hanya akan menyisakan beberapa volunteer yang akan menetap di kota Kendari. Mereka inilah yang tetap melanjutkan agenda wajib Kendari Mengajar. Januari di penanggalan 18 adalah hari di mana saya, untuk pertama kalinya, diharuskan untuk menjadi pengajar. Ketika tiba di Puulonggida, saya mengetahui bahwa beberapa adik asuh kehilangan kakak pengajarnya yang harus berlibur di kampung halaman. Saya tidak punya pilihan. Saya harus melakukan sesuatu. Anak-anak itu tidak boleh bermain saja. Mereka harus belajar, seperti teman-temannya yang lain. Jika selama ini saya hanya berinteraksi dengan mereka dalam sesi bermain atau sekadar bercerita lepas, maka hari itu, saya berada di hadapan mereka sebagai seorang pengajar. Ya, benar-benar seorang pengajar. Selama sejam penuh.


Hari itu, saya menjadi pengajar untuk adik-adik di tingkatan 3 (kelas 3), yang beranggotakan Rijal, Rendi, Iksan, dan Apil. Kelompok ini adalah kelompok yang terkenal “sulit diajak bernegosiasi”. Dan saya belum menemukan cara untuk membagikan  Pengetahuan Umum bertema Kisah Kerajaan/Pahlawan di Sulawesi Tenggara dengan cara yang menarik. Beruntung, hari itu, Ayu—salah seorang staf Kendari Mengajar—mengisahkan perihal Haluoleo. Dia telah menyiapkan cerita itu untuk adik-adik asuh yang lain, sebelumnya.  Tapi rupanya, kisah Haluoleo adalah hal yang membosankan bagi kelompok-susah-diajak-bernegosiasi ini. Saya tidak tahu apakah saya melakukan hal yang benar, tetapi saya berinisiatif untuk menanyakan apa yang adik-adik itu ketahui tentang kerajaan. Dan mengalirlah celetukan tentang sinetron berlatar belakang kerajaan Pasundan: Angling Dharma-Damar Wulan, dan sebagainya. Setidaknya mereka mengetahui gambaran situasi kerajaan. Setidaknya mereka mengetahui bahwa raja dan ratu bukan dongeng semata. Saya hanya berharap agar mereka tidak sering menontonnya. Tidak lagi. Mereka harus belajar sejarah kerajaan dari buku-buku yang dapat dipercaya. Tapi tidak mengapa. Selalu ada saat yang tepat bagi segala sesuatu.

Sesi Pengetahuan Umum hari itu kami tutup dengan kisah Wandiu-Diu. Sebuah legenda yang popular di kalangan masyarakat Buton. Cerita pengantar tidur yang dulu sering dikisahkan ibu saya. Sebuah kisah yang kaya pesan moral, tentang seorang ibu yang berubah menjadi duyung. Sang ibu yang ingin dapat menyajikan masakan ikan bagi anak-anaknya akhirnya memutuskan untuk mencari ikan sendiri ke laut. Sang ibu yang tak kunjung mendapatkan ikan, tak pernah pulang. Ia ingin bisa mendapatkan ikan sebelum pulang. Sang ibu ingin pulang dengan ikan tangkapan yang banyak. Lambat laun, tubuh sang ibu ditumbuhi sisik. Kakinya berubah menjadi ekor ikan. Sang ibu pun menjadi ikan duyung dan enjadi penghuni laut. Ketika mengisahkan itu, saya terkesima melihat wajah adik-adik asuh kami. Mereka tampak jauh berbeda dari biasanya. Mereka berubah menjadi pendengar yang teliti dan penyimak yang khidmat. Sesekali salah seorang dari mereka bertanya. Saya terkejut mendapati kisah sederhana yang dikisahkan dengan sederhana itu, berhasil mengalihkan perhatian mereka. Saya tidak menyangka akan menempati posisi ibu saya di kala itu, untuk mengisahkan kembali cerita ini kepada anak-anak lain. Anak-anak yang beberapa saat setelah menutup cerita itu, saya sadari, bahwa mereka tidak seperti diri saya di masa kecil. Mereka tidak pernah mendengar cerita-cerita ajaib seperti itu dari ibu-ibu mereka. Padahal setiap anak membutuhkannya. Mereka sedang berdiri pada fase di mana imajinasi mereka sedang berkembang pesat. Pesan-pesan moral yang disisipkan lewat cerita-cerita akan meninggalkan kesan yang kuat di benak mereka, untuk dapat memengaruhi mereka secara positif. Nurani saya tergetar. Dada saya disesaki rasa haru yang meluap-luap. Saya harap, mereka bisa merasakan perasaan saya di masa kanak-kanak.

 
Keesokan harinya, saya kembali menjadi pengajar. Tapi kali itu, saya mengajari adik-adik di tingkatan 2. Kelompok belajar saya beranggotakan Nathan, Santi, Rei, Linda dan juga Apil. Kelompok Nathan, Santi, Rei, Linda adalah kelompok yang lebih kalem dibandingkan kelompok tingkat 3.


Hari itu kelompok tingkatan 2 dijadwalkan belajar Matematika. Mereka belajar melakukan penjumlahan dan pengurangan bilangan ratusan. Dengan daya serap pelajaran yang tinggi, penjumlahan dan pengurangan bilangan ratusan menjadi hal yang mudah bagi kelompok ini. Kecuali Linda. Adik asuh yang satu ini sedikit lebih lamban dari teman-temannya yang lain dalam memahami sesuatu. Tapi hal itu tidak lantas mengganggu jalannya proses belajar.

Setelah pelajaran usai, tiba-tiba Apil meminta saya untuk kembali mengisahkan Wandiu-Diu. Rupanya kisah itu masih melekat kuat di ingatannya. Saya pun kembali mengisahkan Wandiu-Diu.  Adik-adik asuh yang lain berebut untuk duduk di samping saya dan ikut mendengarkan. Saya tersenyum. Haru dan senang. Wandiu-Diu telah memenangkan hati mereka. Saya berjanji, akan membawakan cerita-cerita yang lebih banyak lagi, nanti. Yang kelak akan mereka ingat, dan akan kembali mereka ceritakan pada anak-anak lain, atau anak-anak mereka.


Menjadi Pengajar Dua Hari membekaskan kesan yang sangat mendalam bagi saya. Saya yang berlatar pendidikan hukum, seseorang yang tidak pandai bercerita, namun dapat merasa begitu dekat dengan adik-adik asuh Puulonggida yang selama ini seringkali hanya saksikan belajar dari kejauhan. Saya kemudian teringat sebuah pesan yang diberikan oleh bapak Anies Baswedan kepada volunteer Kendari Mengajar ketika bertemu dengannya beberapa waktu lalu,  “Izinlanlah anak-anak itu mencintaimu, mengambil inspirasi darimu dan biarkan mereka meletakkan mimpinya di tempat amat tinggi lalu ajarkan pada mereka cara-cara untuk bisa melampaui mimipi mereka itu”.



   Hari itu saya membuktikannya. Mengajarkan adik-adik kita pelajaran formal (Matematika, Bahasa Inggris, bahasa Indonesia, Ilmu Alam, dan sebagainya) memang penting. Tapi yang terpenting adalah membuka celah agar mereka mencintai kita. Memberi ruang dalam hati mereka bagi kita, seperti halnya kita yang telah lebih dulu membuka hati bagi mereka. Karena dengan mencintai kita, kelak mereka akan terinspirasi untuk menjadi orang yang juga dicintai. Dan tentunya, kelak kepada merekalah tongkat estafet di tangan kita akan kita serahkan. Mereka harus menjadi pengajar yang jauh lebih hebat dari kita. Hari ini,mereka membutuhkan kehadiran kita. Bertahun mendatang, kehadiran mereka pun akan dibutuhkan. 
[ASN/RAY]
Catatan Pengajar #3: Buat Mereka Mencintaimu Catatan Pengajar #3: Buat Mereka Mencintaimu Reviewed by Unknown on 06.14 Rating: 5

Tidak ada komentar


close