Iqro Abdul
Matahari bak pemanggang raksasa di Kamis,
23 januari itu. Tiga volunteer Kendari
Mengajar mengunjungi Puulonggida untuk sebuah pelajaran baru. BTA—Baca Tulis Al
Qur’an. Sebuah agenda baru yang menjadikan jadwal kunjungan menjadi tiga kali
dalam seminggu. Adalah Kak Nur, Kak Yaya, dan Kak Awal, yang hari itu menikmati
pengalaman pertama menjadi pengajar Baca Tulis Al Qur’an. Kak Nur dan Kak Yaya
adalah pengajar yang telah ditunjuk untuk pelajaran ini, sedang Kak Awal adalah
penanggungjawab mata pelajaran.
Tim pengajar BTA menyempatkan diri
melaksanakan shalat Asar di masjid yang terletak di mulut lorong yang mengarah
ke Desa Puulonggida. Di masjid yang tengah direnovasi itu mereka melantun
doa-doa demi kemudahan segala urusan. Lepas
pukul 03.30 barulah Tim BTA melanjutkan perjalanan SDN 9 Mandonga, Puulonggida.
Saat dua motor tim BTA terparkir di halaman sekolah, senyuman nan polos dan teriakan
adik-adik asuh memangil nama para pengajar pun terdengar.
“Kak, kita mengaji ini hari?” tanya salah
seorang adik asuh bernama Abdul. Ia terlihat tidak sabar untuk segera memulai
pelajaran pertama bersama kakak pengajarnya.
Sore itu, dua puluh adik asuh datang
untuk belajar mengaji. Mereka datang dengan pakaian seperti yang biasa mereka
kenakan di hari Sabtu dan Minggu. Tak ada yang mengenakan jilbab, kopiah,
celana/rok panjang. Rekan-rekan anggota tim BTA mengembangkan senyum, maklum.
Beberapa saat kemudian, Tim BTA pun
memperkenalkan Iqro dan Al-qur’an kepada adik-adik asuh. Dengan mata yang
berbinar-binar dan rasa ingin tahu yang besar, mereka mengamati Kak Nur yang membuka
lembaran Iqro dan Al-qur’an. Rey, adik asuh yang selalu semangat, dengan penuh
percaya diri mulai melafalkan huruf-huruf hijayah yang diketahuinya.
Tim BTA dan adik-adik asuh mengambil
posisi di lapangan sekolah. Membenamkan diri mereka di lautan rumput yang mulai
meninggi. Jumlah buku Iqro yang dimiliki tim BTA sangat terbatas. Tidak. Sebenarnya
jauh di bawah itu. Mereka hanya memiliki sebuah Iqro. Lalu tiba-tiba Abdul,
bergegas pulang ke rumahnya, dan mengambil Iqro miliknya. Iqro Abdul terkulai
dengan menyedihkan di tangan kecilnya. Usang dan tampak rapuh. Warna sampulnya telah
pudar. Mungkin itu Iqro yang diwariskan oleh kakaknya. Tak ada yang tahu pasti.
Mungkin juga, Iqro itu seusia Abdul. Atau lebih. Tak ada yang bisa menduga
dengan pasti. Pengajar BTA memutuskan untuk tidak menggunakan Iqro itu. Beberapa
halamannya sudah sobek. Sedang halaman-halaman utuh yang lain tampaknya akan
segera sobek jika disentuh. Akan lebih baik jika Abdul menyimpannya saja.
Kak Yaya akhirnya berinisiatif
menuliskan huruf hijayah berukuran besar di selembar kertas selembar, seluruh
adik-adik peserta belajar dapat melihatnya. Kak Yaya mulai memperkenalkan huruf
alif dan meminta adik-adik untuk membunyikannya setelah memberinya contoh, “a”,
katanya. Kemudian “ba”—yang ia deskripsikan sebagai huruf berbentuk perahu dengan
satu titik dibawahnya—dan seterusnya. Adik-adik dengan suara yang lantang
melafalkan huruf hijayah itu satu per satu. Ada beberapa huruf yang begitu
sulit mereka ucapkan dengan tepat. Seperti “tsa” dan ”dza”, yang saat
mengucapkannya, adik-adik itu tertawa berderai-derai. Begitu pun para pengajar.
Dengan sabar, kedua pengajar Tim BTA menjelaskan dengan detil yang mudah
dimengerti. Bagaimana harus menempatkan lidah saat mengucapkan huruf tertentu, bunyi
seperti apa yang akan terdengar, dan benarkah jika bunyi itu hanya berupa
desisan. Semua itu terasa menyenangkan. Adik-adik asuh mengalami sesi belajar
yang berbeda dan tak biasa. Sedang pada Pengajar seolah sednag menapak tilas
keluguan masa kecilnya saat duduk di posisi yang sama dengan adik-adik asuhnya.
Pengajar Tim BTA seolah sedang berhadapan dengan diri mereka sendiri. Mata adik-adik
asuh itu adalah cermin yang darinya bayangan masa kecil mereka terpantul. Dan mereka
terlempar ke sebuah masa yang akan selalu mereka ingin cecap kembali, kelak,
bahkan di hari tua mereka. Masa kanak-kanak yang tak mengenal kesedihan karena
keterbatasan.
Pengajar BTA kemudian membagi adik-adik
asuh menjadi dua kelompok belajar: Kelompok Ikhwan (kelompok anak laki-laki) dan
Kelompok Akhwat (Kelompok Anak Perempuan). Pembagian ini ditujuan untuk
memudahkan observasi level kemampuan adik-adik dalam membaca huruf Hijaiyah,
untuk kemudian diklasifikasikan dalam level yang lebih spesifik, yakni level 1,
2, 3, dan seterusnya. Sebenarnya, beberapa adik asuh ada yang sudah pernah
belajar mengaji. Dan itu terjadi bertahun silam, sehingga hanya menyisakan
ingatan tentang huruf “a”, ”ba”, ”ta”, dan “tsa”.
Sedang asyik belajar, datanglah seorang
ibu menghampiri kelompok BTA. Wajahnya mengulas senyum simpul tatkala melihat
betapa semangatnya adik-adik belajar mengaji.
“Iya, begitu. Kalian mengaji juga
jangan main-main terus,” pesan sang Ibu, saat salah seorang adik asuh terlihat bercengkerama
dengan temannya.
Rupanya salah satu adik asuh yang
belajar sore itu adalah anak Sang Ibu. Sang Ibu kemudian memberitahu anaknya
akan membelikan Iqro ketika pergi ke pasar, nanti. Benarlah apa yang dikatakan
orang-orang bijak, tak ada yang tak akan dilakukan seorang ibu jika untuk
kebaikan anaknya. Sebuah kesadaran yang tiba-tiba, menyentak anggota Tim BTA
dengan lembut. Mereka ingin membawa lebih banyak Iqro dan Al Qur’an ke desa
itu, nanti. Sesuatu yang mungkin tak bisa dibeli setiap ibu di desa itu untuk
anaknya, meski mereka sangat ingin anak-anak mereka memilikinya. Selama ini,
Kendari Mengajar—yang merupakan gerakan non-profit ini—mengandalkan donasi dari
Orang-Orang Peduli. Tim BTA hanya
bisa berharap, agar Gerakan 1000 Buku yang digalang Kendari Mengajar dapat
menggalang buku-buku Iqro dan Al Qur’an.
Pelajaran BTA berlangsung kurang lebih 60
menit. Sesi belajar ditutup dengan doa bagi kedua orang tua, yang baru
diajarkan saat itu juga. Kak Nur lalu menjelaskan manfaat membacakan doa untuk
kedua orang tua, yang disambung oleh Kak Yaya menjelaskan arti dari doa untuk kedua
orang tua itu.
Setelah menit-menit yang khidmat itu
berakhir, seorang adik asuh lantas meminta izin agar jika mereka—para anak
perempuan—datang untuk belajar BTA lagi, bisa mengenakan jilbab. Namun,
permintaan izin yang sungguh-sungguh itu, terdengar seperti permohonan yang
ditujukan bagi para Pengajar.
”Kak, nanti kalau belajar mengaji lagi,
datangnya pake jilbab nah, kak?”
Kak Nur dan Kak Yaya mengangguk dengan gelombang
rasa gembira yang menguasai diri mereka. Sebelum larut begitu dalam dengan itu
semua, adik-adik asuh telah berlomba meraih tangan mereka dan menciuminya
dengan penuh rasa terima kasih.
Dan terpujilah Tuhan yang Maha Suci,
yang mengaruniai anak-anak muda itu dengan kehangatan hati dan semangat
meninggalkan kebaikan di setiap jejak langkah mereka.
[NUR/RAY]
Iqro Abdul
Reviewed by Unknown
on
16.25
Rating:
Reviewed by Unknown
on
16.25
Rating:





Tidak ada komentar