Ads Top


Memotret MI DDI Mataiwoi



Sejak subuh, hujan deras mengguyur seluruh wilayah kota kendari. Hal itu berimbas pada rencana Kakak-Kakak Volunteer untuk berangkat ke Mowila, Kabupaten Konawe Selatan, yang akhirnya harus tertunda beberapa jam. Hari itu, Selasa, 26 April 2016, Kakak-Kakak Volunteer sudah bersiap sejak pukul 7.00 WITA, untuk bertolak dari Kendari. Tapi hujan baru mereda  pukul delapan lebih sekian puluh menit. Kak Ace, Kak Ical, dan Kak Amal pun bergegas menuju rumah Kak Ayu untuk berkumpul sebelum menuju Mowila.
Tim volunteer akhirnya berangkat menuju Mowila sekirar pukul 9.30, dengan mengendarai dua buah motor matic. Kak Ical berboncengan dengan Kak Ayu, dan Kak Amal berboncengan dengan Kak Ace. Untuk mencapai Mowila, perjalanan bisa ditempuh dalam waktu satu jam berkendara dengan kecepatan 60-an kilometer per jam.
Kunjungan ke Mowila hari itu adalah dalam rangka mengobservasi sebuah sekolah yang akan dijadikan sebagai salah satu sasaran “Social Project” tahunan Gerakan Kendari Mengajar.  Sekolah itu adalah MI (Madrasah Ibtidaiyyah) Darul Dakwah Wal Irsyad (DDI) Mataiwoi, yang terletak di Desa Mataiwoi. Setelah melakukan penggalangan buku fiksi, pelajaran, dan buku tulis, tahun ini GKM ingin mencoba proyek sosial yang sedikit berbeda. Membutuhkan upaya yang lebih keras, tapi semoga bisa terbayar dengan capaian manfaat yang dicita-citakan. Tahun ini, GKM bercita-cita membantu penyediaan sarana/prasarana sebuah sekolah yang telah dipilih GKM, untuk menunjang kelayakan suasana belajar adik-adik di sana.
Beberapa kilometer sebelum mencapai sekolah MI DDI Mataiwoi, motor Kak Ical mengalami insiden kebocoran ban depan. Sementara itu, waktu sudah menunjukkan hampir pukul sebelas. Mengingat sekolah akan berakhir pukul 12.00 siang, Kak Amal dan Kak Ace pun memutuskan berangkat lebih dulu untuk meminimalisir keterlambatan. 



Sekolah MI DDI Mataiwoi terletak di depan jalan poros. Berdiri di atas lahan waqaf desa, sekolah itu, dari luar, tidak benar-benar tampak seperti sebuah sekolah. Bangunannya adalah kesatuan dinding papan, naungan atap rumbia, dan lantai yang berupa hamparan tanah. Bangunan itu dibagi menjadi empat ruangan dengan ukuran panjang 14 meter dan lebar 4 meter, serta ditambah teras sepanjang 1,5 meter. Bagian terbaik dari bangunan sekolah itu hanyalah tiang benderanya, yang berupa besi kokoh karena dicor dengan baik, dan dicat putih, sehingga tampak seperti sebuah paradoks mengejutkan yang menjulang dengan anggun.
Setibanya di sana, Kak Amal dan Kak Ace segera bergegas menemui Pak Ahamadi—yang adalah Kepala Sekolah MI DDI Mataiwoi—yang saat itu sedang mengajar di kelas 6. Kedua kakak volunteer mengobrol selama beberapa saat, sebisa mungkin berusaha untuk tidak mengganggu kesibukan adik-adik siswa yang sedang belajar. Kak Ace meminta izin untuk mengambil gambar menggunakan kamera digital di beberapa ruangan, selagi Kak Amal melanjutkan obrolan dengan Pak Ahamadi di depan kelas 6.


Pak Ahamadi pun menceritakan bagaimana sekolah itu berdiri. Pada tahun 2011, atas permintaan masyarakat desa, sekolah MI DDI akhirnya didirikan secara swadaya. Saat itu baru ada dua ruangan: satu dipergunakan sebagai ruang kelas, dan yang lainnya berfungsi sebagai ruang kantor. Siswanya cukup banyak, yakni mencapai dua puluh orang. Namun, setelah beberapa lama, siswanya mulai pindah ke sekolah lain. “Mungkin gak betah dengan gedung sekolahnya,” tutur Pak Ahamadi. Pada tahun 2012, karena jumlah siswa baru bertambah, sementara ruang belajar tidak bertambah, maka ruang kantor pun beralih fungsi sebagai ruang kelas. Nantilah di tahun 2013 dan 2014, ruangan kelas akhirnya bertambah masing-masing satu ruangan untuk setiap kelasnya, hingga saat ini. 

Tiak lama setelah perbincangan itu berlangsung, Kak Ical dan Kak Ayu akhirnya tiba di sekolah. Tim volunteer pun mengunjungi ruang kantor untuk menyapa para guru. Tenaga pengajar di sekolah itu  berjumlah 7 orang, yang terdiri dari 6 guru tetap dan 1 guru tidak tetap. Namun, saat itu yang hadir hanya 5 orang guru. Dua guru lainnya bergegas pulang setelah kelasnya berakhir. Kak Amal kemudia menanyakan jumlah murid di sekolah itu. Salah seorang guru menuturkan bahwa, mereka memiliki 40 siswa untuk kelas 1 hingga kelas 5.
Untuk melengkapi data observasi yang diperlukan, tim volunteer mengambil beberapa gambar gedung, gambar adik-adik siswa, dan mengambil rekaman video Pak Ahamadi yang mengisahkan banyak hal tentang sekolah itu berikut harapannya tentang kehadiran GKM bagi mereka. Ada hal lucu yang terjadi saat kakak volunteer ingin memotret adik-adik siswa. Mereka tampak malu-malu dan berusaha menutup wajahnya, bahkan ada yang berdiri di balik punggung temannya yang bertubuh lebih tinggi. Saat hendak dipotret, wajah mereka terlihat kaku. Maka kak Amal meminta mereka untuk berkata “ciis!” beberapa kali saat pengambilan gambar. Kata itu akhirnya mampu membuat bibir mereka tersenyum lebar.


Sebelum bertolak kembali ke Kendari, tim volunteer mengajak adik-adik MI DDI Mataiwoi bermain “tangkap jari telunjuk teman”. Permainan jagoan kakak-kakak volunteer GKM yang sudah terbukti berhasil menghancurkan tembok kecanggungan antara kakak volunteer dan adik-adik mana pun yang pernah mereka temui. Baik saat melakukan pengajaran di daerah binaan GKM, maupun ketika menghadiri agenda di tempat lain. Dan terbukti, meski adik-adik MI DDI Mataiwoi memainkan permainan ini dengan serius, permainan ini akhirnya berhasil membuat mereka tertawa. Semoga ini menjadi awal yang baik untuk menerima kehadiran kakak-kakak volunteer di tempat itu.


Sesaat sebelum pulang, di sela-sela berpamitan kepada para guru dan adik-adik siswa, kakak-kakak volunteer menyampaikan keinginan untuk memberikan upaya terbaik mereka bagi sekolah itu. Meninggalkan MI DDI Mataiwoi, kakak-kakak volunteer meneguhkan niat untuk kembali ke tempat itu: melakukan sesuatu. Merubah sesuatu. Membetulkan hal-hal yang terasa salah. Perjalanan ini sungguh masih panjang, dan tentu melelahkan. Tapi tekad sudah dibulatkan, dan langkah sudah diteguhkan. Perkataan Franklin Roosevelt terngiang, mengiringi heningnya perjalanan tim volunteer: kita tidak selalu bisa membangun masa depan untuk generasi muda, tapi kita bisa membangun generasi muda untuk masa depan yang lebih baik. Dan satu-satunya hal yang ingin dan mampu GKM lakukan sebagai energi muda adalah, menghadiahi tunas-tunas muda bangsa ini dengan kesempatan untuk menikmati pendidikan yang lebih baik, dalam segala bentuk yang mungkin. Tunas-tunas muda itu, saat ini, sedang menunggu kita, di Mowila: dalam potret buram bernuansa kelabu.
Memotret MI DDI Mataiwoi Memotret MI DDI Mataiwoi Reviewed by Unknown on 06.13 Rating: 5

Tidak ada komentar


close