Kendari Mengajar Invasi Nanga-Nanga [Harapan Itu Masih Ada]
Saat mendengar kata Nanga-Nanga disebutkan,
hampir dapat dipastikan pikiran warga Kota Kendari akan melayang pada sebuah
wahana air terjun yang jernih, dalam kepungan pepohonan raksasa yang rimbun. Kendari Mengajar membutuhkan kurang lebih tiga
bulan untuk akhirnya bisa mengunjungi Nanga-Nanga, yang telah ditetapkan
sebagai lokasi ajar kedua Gerakan Kendari Mengajar. Keterbatasan jumlah guru
menjadi salah satu hal yang melatarbelakangi terpilihnya daerah ini sebagai
lokasi ajar kedua GKM.
Saat menjejaki Nanga-Nanga, yang bisa disaksikan bukanlah wahana air terjun yang acapkali dielu-elukan pencinta backpacking. Nanga-Nanga merupakan
sebuah kawasan pemukiman penduduk yang berlokasi di Kelurahan Baruga, Kecamatan Baruga,
Kota Kendari. Secara kasat mata, Baruga ibarat selembar potret dari gencarnya pembangunan di Kota Kendari. Sangat mengejutkan
mendapati bahwa
Nanga-Nanga tidak menjadi bagian dari pembangunan itu.
Kawasan ini justru menampilkan sisi lain dari Baruga, sebuah potret wajah muram kota ini. Terbelakang, adalah satu kata yang dapat merepresentasi keadaan itu. Nyatanya, wahana air terjun sebagai destinasi jelajah alam yang cukup terkenal di kalangan masyarakat Sultra, tak lantas menjadikan wilayah ini berkembang. Akses jalan yang kurang bagus adalah salah satu kendala nyata yang bisa terlihat pertama kali, tatkala menuju tempat ini.
Kawasan ini justru menampilkan sisi lain dari Baruga, sebuah potret wajah muram kota ini. Terbelakang, adalah satu kata yang dapat merepresentasi keadaan itu. Nyatanya, wahana air terjun sebagai destinasi jelajah alam yang cukup terkenal di kalangan masyarakat Sultra, tak lantas menjadikan wilayah ini berkembang. Akses jalan yang kurang bagus adalah salah satu kendala nyata yang bisa terlihat pertama kali, tatkala menuju tempat ini.
Saat melakukan observasi awal, fokus
utama Gerakan Kendari Mengajar adalah sebuah sekolah dasar bernama SDN 20
Baruga. Sekolah ini merupakan satu-satunya sekolah yang didatangi anak-anak
usia sekolah yang bermukim di Nanga-Nanga. Tak hanya keterbatasan jumlah
pengajar yang membuat Kendari Mengajar terenyak. Kekosongan perpustakaan juga memanggil Kendari Mengajar untuk
melakukan sesuatu. Jika beberapa waktu lalu, Gerakan Kendari Mengajar
merilis Gerakan 1000 buku—sebuah aksi
penggalangan buku-buku bacaan untuk siswa Sekolah Dasar dan SMP untuk pendirian
taman baca, maka Nanga-Nanga pun menjadi salah satu
titik pendirian taman baca Gerakan Kendari Mengajar. Hari itu, Sabtu pagi, 18
Januari 2014, Tim Taman Baca Gerakan Kendari Mengajar mengunjungi Nanga-Nanga
untuk menyalurkan beberapa buku hasil donasi perolehan Gerakan 1000 Buku,
sekaligus mengukuhkan Nanga-Nanga sebagai wilayah target ajar kedua Kendari
Mengajar.
Nanga-Nanga berjarak kurang lebih sepuluh kilometer dari
Kantor Gubernur Sultra,
atau jika perjalanan dilakukan dari wilayah Baruga, lokasi ini berjarak kurang
lebih lima kilometer dari SMAN 5 Kendari.
Tim Kendari Mengajar mengambil rute perjalanan dari SMAN 5 Kendari. Seharusnya
lima kilometer bukanlah jarak yang jauh, jika jalanan yang ditempuh mulus dan
lebar. Nyatanya, yang dihadapi oleh tim ini adalah yang sebaliknya. Tim yang
terdiri dari lima orang dengan tiga kendaraan roda dua itu—lagi-lagi—harus berhadapan dengan
bentangan jalan berundak yang berbatu dan sesekali terjal. Perjalanan pun tak
ubahnya kegiatan berpacu adrenalin yang
membutuhkan keterampilan berkendara yang baik. Di kilometer pertama, tim
Kendari Mengajar menemukan kantor PDAM Baruga. Jalanan di depan kantor ini pun tak cukup baik. Setelah itu, yang tersisa adalah
hamparan pepohonan di kiri dan kanan jalan. Di luar medan
tempuh yang tak terduga, perjalanan
tim Kendari Mengajar tak ubahnya sebuah wisata hutan yang menyenangkan. Berjalan di bawah langit biru yang digantungi
gumpalan awan putih, melintasi pepohonan yang memagari jalan, dan sesekali
menemukan lembah-lembah kecil yang menyejukkan mata. Sesekali satu-dua rumah warga Nampak.
Meretas kesunyian yang hanya memperdengarkan suara serangga hutan dan deru kendaraan.
Mendekati SDN 20 Baruga, jalanan berangsur membaik. Pengerasan yang telah
dilakukan membuat pemandangan di sekitar tampak jauh lebih menyenangkan. Udara
bebas polusi terasa seribu kali jauh lebih menyegarkan.
Setelah berkendara selama lebih kurang
empat puluh lima menit, tim Kendari Mengajar akhirnya tiba di SDN 20 Baruga
yang berdiri bersama SMP SATU ATAP BARUGA. Bangunan SD ini
cukup bagus untuk ukuran daerah terpencil. Tim Kendari Mengajar segera disambut
hangat oleh guru-guru dan
Kepala Sekolah. Lalu perhatian tim Kendari Mengajar teralihkan oleh
kesibukan di sebuah tenda yang dibentangkan oleh sebuah mobil berwarna biru—yang
beberapa saat sebelumnya bertemu rombongan kendataan tim GKM di perjalanan. Siswa
TK, SD, dan SMP menyemut di bawah
naungan tenda—yang kemudian tim Kendari Mengajar ketahui sebagai milik Mobil
Pintar—dengan sikap antusias yang
mengagumkan. Rupanya Mobil Pintar kerap mengunjungi daerah-daerah pinggir. Dan hari Jumat
adalah giliran kunjungan ke Nanga-Nanga.
Mobil Pintar adalah bagian dari agenda
SIKIB—Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu—yang bekerjasama dengan TP
PKK Provinsi Sulawesi Tenggara yang dipimpin oleh ibu Tina Nur Alam (istri
Gubernur SULTRA). Kegiatan Mobil Pintar ini sudah berjalan selama 4 tahun, yang bermula di Kabupaten
Konawe Selatan. Di setiap
kabupaten, Mobil Pintar mengunjungi 3 wilayah pinggiran
sebanyak tiga kali seminggu.
Untuk kota Kendari, kunjungan dilakukan di Wanggu pada hari Senin, Hombis/Manula pada hari Rabu, dan Nanga-Nanga pada hari Jumat,” tutur Bapak pengemudi Mobil Pintar. Dari Bapak
tersebut, tim Kendari Mengajar mengetahui bahwa agenda ini akan
berlangsung selama 3 bulan. Setiap minggu dilaksanakan 1 kali pertemuan yaitu
pada hari Jumat. Pada bulan pertama dan kedua dilaksanakan proses
belajar, sedangkan pada
bulan ketiga akan diadakan
pertandingan-pertandingan. Target kegiatan ini adalah mengajarkan membaca
kepada siswa yang belum bisa membaca, memberi ruang baca bagi siswa-siswa yang
sudah bisa membaca dengan buku-buku yang disediakan, dan mengajarkan penggunaan
komputer kepada siswa SMP.
Kegiatan
bernilai manfaat seperti ini, sayangnya,
tidak mengemuka di media-media massa sesering mengemukanya berita-berita seputar kasus korupsi, tindak kriminal,
atau kerusuhan. Padahal kegiatan seperti ini dapat menjadi stimulan bagi gerakan
turun tangan lainnya yang dapat diinisiasi oleh kelompok masyarakat
ataupun individu lainnya.
Asyik memikirkan itu semua, tibalah
saatnya bagi tim Kendari Mengajar untuk menemui Kepala Sekolah di ruangannya.
Niat untuk membantu proses belajar mengajar di SDN 20 Baruga yang disampaikan
oleh tim Kendari Mengajar pun bersambut. Volunteer pengajar GKM mendapat
satu kesempatan setiap minggu, yakni Sabtu pagi untuk mengisi kelas di SDN 20
Baruga. Berbeda dengan waktu belajar di Puulonggida yang diadakan sore hari,
anak-anak Nanga-Nanga di sore hari disibukkan oleh aktivitas di rumah. Mereka harus membantu orang tua mereka
bekerja di sawah, hutan, dan kebun.
Untuk tahap awal, tim Kendari Mengajar
mengukuhkan tiga pengajar untuk mengajar di kelas 1, 2, dan 3. Setelah rencana
itu diutarakan, tim Kendari Mengajar beralih pada pendirian taman baca.
Dengan
antusias, Kepala Sekolah mengizinkan perpustkaan yang masih kosong untuk diisi oleh buku-buku taman baca Kendari
Mengajar. Sempat terbersit di benak tim Kendari Mengajar, bukankah APBN kita menganggarkan dana
sebesar lebih dari tiga ratus tiga puluh triliun? Berapa yang dianggarkan untuk
pendidikan? Berapa banyak yang dianggarkan untuk pengadaan buku-buku bacaan
untuk perpustakaan sekolah? Mengapa perpustakaan sekolah ini kosong?
Selagi memikirkan itu, mengalirlah cerita
dari Bapak Kepala Sekolah, “Sejak setahun yang lalu saya berada di sekolah ini,
belum ada bantuan buku utnuk sekolah ini sehingga minggu lalu saya menemui
beberapa teman sesama kepala sekolah yang mempunyai buku berlebih untuk
diberikan kepada kami. Hasilnya ada beberapa eksampler buku yang kami dapatkan,
jadi hanya itulah yang menjadi isi perpustakaan tersebut. Saya merasa sangat
senang kalau akan ada bantuan buku tersebut.”
Pengakuan
yang mengejutkan sekaligus
mengharukan. Aksi demonstrasi ternyata tidak lantas menyelesaikan ini, pikir
tim Kendari Mengajar. Aksi nyata adalah
hal paling masuk akal untuk dilakukan, sembari terus
melakukan
advokasi kepada pemerintah untuk memperhatikan masyarakat pinggiran yang memiliki antusiasme yang sama besarnya dengan masyarakat perkotaan perihal pendidikan. Gerakan Kendari Mengajar berharap dapat
memperpendek jarak antara pemerintah dengan daerah-daerah dalam kota yang
memiliki potensi tak tersalurkan yagn berlimpah ini.
Perbincangan pagi itu diakhiri dengan sebuah sesi foto bersama. Saat waktu menunjukkan angka sepuluh lebih tiga
puluh menit, tim Kendari Mengajar pun bergabung dengan Tim Mobil Pintar. Anak-anak kembali dikumpulkan untuk menceritakan
aktivitas yang baru mereka alami sebelum
melafalkan doa sebelum pulang. Salah
seorang siswi SMP Satu Atap, dengan malu-malu, menceritakan kembali
kisah Cinderella yang
dibacanya beberapa saat lalu. Lalu tim Kendari Mengajar mendapat kesempatan
untuk mengenalkan diri kepada calon adik-adik asuh yang baru. Adik-adik
itu tampak senang
mengetahui bahwa mereka
akan mendapatkan pengajar baru dan dapat bersenang-senang setiap kali kunjungan
SIKIB setiap minggunya.
Selepas doa sebelum pulang, tim Kendari Mengajar pun bergegas meninggalkan
SDN 20 Baruga. Tim Mobil Pintar menyatakan apresiasi besarnya terhadap Gerakan Kendari Mengajar.
Terbantahkan sudah stigma bahwa pemerintah tak lagi dapat diharapkan. Harapan
itu masih ada. Sudah saatnya kita saling bergandeng
tangan dan berbuat sesuatu dalam bingkai solidaritas yang kokoh.
Tim PKK memberikan
kesempatan pada
tim Kendari Mengajar untuk berjalan lebih dulu lalu mengacungkan jempol. Kedua
tim sahabat baru ini saling melempar
senyum. Tim Kendari Mengajar kembali menyusuri bebatuan di bawah panggangan
matahari yang terik. Adik-adik SDN 20 Baruga yang berjalan pulang melempar
sapaan ringan.
[HSR/RAY]
Kendari Mengajar Invasi Nanga-Nanga [Harapan Itu Masih Ada]
Reviewed by Unknown
on
16.13
Rating:
Reviewed by Unknown
on
16.13
Rating:



.jpg)







Tidak ada komentar