Ads Top


Catatan Pengajar #6: Bahagia Itu, Sederhana



"Bahagia itu sederhana"

Pagi yang cerah, matahari bersinar menyambut sabtu, di penanggalan 26 April 2014. Seperti biasa, sabtu adalah hari dimana saya dan teman-teman yang tergabung sebagai volunteer pengajar di Gerakan Kendari Mengajar (GKM) akan kembali mengendarai kendaraan kami ke suatu desa yang letaknya cukup jauh dari pusat keramaian Kota Kendari, tepatnya ke SD N 20 Baruga, di Nanga-Nanga, Kecamatan Baruga.
 
Jadwal pengajaran hari ini adalah Pengetahuan Umum. Pada jadwal pengetahuan umum, kami akan berbagi ilmu terkait pengetahuan-pengetahuan umum kepada adik-adik, tentang alam, Kendari, Indonesia atapun hal-hal yang mengasah kreatifitas adik-adik kami. Seperti halnya hari itu, kami akan mengajak adik-adik kami di SD N 20 Baruga membuat kincir angin dan kincir putar, yang memanfaatkan angin sebagai sumber energinya. Dan malam sebelumnya kami telah mempersiapkan bahan-bahan yang diperlukan, sehingga ketika tiba di sana, adik-adik dapat memulai proyek pengetahuan umum hari ini tanpa berlama-lama.

Dengan penuh semangat, pagi itu ku awali perjalanan dengan terlebih dahulu menjemput kakak volunteer yang menjadi partner berboncengan, setelahnya kami akan bersama-sama berangkat menuju ke tempat adik-adik yang telah menunggu kedatangan kami ditiap sabtunya. Motor yang selalu setia menemani perjalanan kami, ku kendarai dengan cepat namun tetap berhati-hati, sehingga kami dapat sampai ditempat tujuan dengan cepat namun tetap selamat.  Jalan berundak yang berbatu dan sesekali terjal adalah jalan yang sudah akrab kami temui ketika menempuh perjalanan ke SD N 20 Baruga . Perjalanan pun tak ubahnya kegiatan berpacu adrenalin yang membutuhkan keterampilan berkendara yang baik, namun hal itu tak pernah menyurutkan semangat kakak-kakak volunteer untuk kembali ke tempat ini ditiap minggunya. Pemandangan lembah-lembah kecil  nan menyejukkan mata hampir di sepanjang jalan senantiasa menjadi hiburan tersendiri bagi para volunteer. Pepohonan tampak asri memagari jalan yang kami lewati, perjalanan ini laksana melakukan wisata hutan yang menyegarkan sanubari.

Ketika tiba disekolah, adik-adik kami telah menunggu dikelasnya masing-masing, kamipun berpencar untuk masuk ke kelas yang menjadi tanggung jawab masing-masing volunteer. Adik-adik di kelas 1, 2, 3, dan 4 akan membuat kincir angin, sedangkan adik-adik dikelas 5 dan 6 akan membuat kincir putar. Dan hari ini saya mendapatkan tugas mendampingi adik-adik di kelas satu bersama salah seorang kakak volunteer lainnya. Tampak wajah-wajah lucu mereka penasaran dan antusias melihat beberapa persiapan yang telah kami bawa. Proyek membuat kincir angin hari itupun di mulai. Dengan penuh semangat kami membagikan bahan-bahan yang terdiri dari kertas karton, lem, dan kayu untuk membuat kincir angin mereka. Satu demi satu kincir angin yang kami buat telah selesai. adik-adik kemudian mewarnai kincir angin mereka agar tampak lebih indah. 


Setelah kincir angin yang mereka buat telah siap untuk dimainkan, mereka kemudian segera keluar dari ruang kelas masing-masing. Terlebih dahulu kami menjelaskan bahwa untuk menggerakkan kincir angin yang mereka buat, mereka harus berlari sambil memegang kincir anginnya, sehingga kincir tersebut dapat terputar dengan bantuan energi angin. Pemahaman angin sebagai salah s atu sumber energi adalah salah satu wawasan yang akan mereka dapatkan melalui proyek kincir angin dan kincir putar di hari itu.

Tidak perlu menunggu waktu lama, adik-adik dari kelas 1 hingga kelas 6 telah berkumpul di lapangan hijau yang terhampar asri tak jauh dari sekolah. Masing-masing adik-adik, memegang kincir yang mereka punyai dengan sangat hati-hati. Satu demi satu adik-adik berlarian disekeliling lapangan, badan mereka meliuk-liuk  di bawah langit biru yang digantungi gumpalan arakan awan putih, angin sepoi-sepoipun menyempurnakan suasana kegembiraan hari itu. Gelak tawa terdengar di berbagai penjuru lapangan, mereka tampak sangat gembira. Melihat adik-adik bermain dengan riang gembira di alam, adalah  sesuatu yang sudah langka untuk dapat dilihat di lingkungan perkotaan. Di era ini, anak-anak di daerah perkotaan umumnya lebih memilih bermain dengan gadget atau permainan-permaian modern, yang membuat mereka lupa bahwasanya ada alam, sebagai wahana bermain terlengkap yang telah diciptakan oleh sang pencipta. Alam adalah sumber inspirasi berkreatifitas yang tak terhingga.

Hari itu saya terkesima melihat kebahagiaan yang dibawa sebuah permainan yang sangat sederhana . Ini  membuatku tersadar bahwasanya, ada hal yang mungkin nampak biasa bagi sebagian orang,  namun mempunyai makna yang tidak biasa bagi sebagian lainnya. Semangat mereka telah menyihirku, menyihirku untuk ikut  berlarian bermain kincir angin mengelilingi lapangan hijau itu. Ini adalah suatu masa dimana kebahagian itu hanya dapat dirasakan keindahannya lewat sensasi rasa yang tercipta, bukan dalam wujud rupa sebuah bahasa. Kebahagian yang dibungkus dalam wujud kesederhanaan dan kebersamaan. Sungguh, inilah makna bahwasanya  BAHAGIA ITU, SEDERHANA !!! (AS/AN)
Catatan Pengajar #6: Bahagia Itu, Sederhana Catatan Pengajar #6: Bahagia Itu, Sederhana Reviewed by Unknown on 18.41 Rating: 5

2 komentar


close