Pengajar Muda Indonesia Sambangi Kendari Mengajar #1: Mengapa Harus MENGAJAR?
Beberapa
waktu lalu Gerakan Kendari Mengajar mendapat kunjungan dari seorang pengajar
muda lulusan jurusan Pendidikan Kimia Universitas Halu Oleo Kendari, Sulawesi
Tenggara. Andi Ahmadi. Baru saja mengabdikan ilmunya di salah satu pelosok
negeri ini. Kendari bukanlah tempat keluarga atau kerabatnya bermukim. Tetapi
semangat dan dedikasinya membawanya ke Kendari untuk bertemu dan menebar
inspirasi kepada sahabat-sahabat lamanya dan juga para volunteer Gerakan
Kendari Mengajar.
Sore itu, 12 Januari 2014, secara khusus Kak Andi menyambangi sekretariat Kendari Mengajar untuk berbagi kisah dan pengalamannya. Berdiri di hadapan para Volunteer Gerakan Kendari Mengajar, Kak Andi Ahmadi membagi gagasannya tentang mengapa anak muda harus mengajar.
Sore itu, 12 Januari 2014, secara khusus Kak Andi menyambangi sekretariat Kendari Mengajar untuk berbagi kisah dan pengalamannya. Berdiri di hadapan para Volunteer Gerakan Kendari Mengajar, Kak Andi Ahmadi membagi gagasannya tentang mengapa anak muda harus mengajar.
Menurut Kak Andi, banyak orang yang
tidak menyadari bahwa pendidikan telah mengantarkan mereka menuju level tinggi
pemahaman akan berbagai hal. Hingga mereka tidak terpikirkan sedikit pun akan balas budi. Padahal sejatinya, mendidik
bukan saja tanggung jawab guru. Mendidik
adalah kewajiban orang-orang terdidik.
Sebagai
salah satu penggagas Gerakan Kendari Mengajar, Andi Ahmadi mengingatkan bahwa
Gerakan Kendari Mengajar hadir sebagai wadah yang merangkul orang-orang dari
beragai latar belakang untuk bersama-sama melunasi janji kemerdekaan dan
menjalankan tugas sebagai orang-orang terdidik. Tanpa bayaran, tanpa pujian,
dan tanpa tanda jasa bahu membahu meluangkan waktu untuk turun ke tempat-tempat
yang masih kurang mendapatkan sentuhan pendidikan secara layak.
“Ini bukanlah
pengorbanan tapi ini adalah sebuah
kehormatan. Seorang relawan tak dibayar bukan karena tak BERnilai tapi ia tidak
dibayar karena TAK ternilai,” ungkapnya. Kalimat tersebut menggema di dalam
diri setiap Volunteer yang hadir di
sana. Kelak mereka akan membutuhkan kalimat itu untuk diingat, jika mereka
merasa terlalu lelah dengan tanggung jawab mengajar.
Andi Ahmadi
mengajak para Volunteer GKM untuk
berkaca pada pendiri bangsa Indonesia. Yang melepas segala kenyamanan hidup
untuk sebuah kemerdekaan yang mahal. Capaian tertinggi dalam kehidupan setiap
orang. Bebas. Merdeka. Menghidup udara yang memusar di atas negeri yang tidak
saja tanpa perang, melainkan juga dihuni oleh orang-orang yang bebas-kebodohan
dan pembodohan. Orang-orang yang cerdas akan mampu melestarikan upaya
pencerdasan, bagi anak-anak bangsa, mencium segala bentuk pembodohan—wujud lain
dari penjajajahan, neoliberalisme—dan tidak tinggal diam menyaksikan segala hal yang salah di sekelilingnya.
Lelaki
berkacamata itu mengungkapkan, betapa seorang seorang ahli/pakar pendidikan
yang mengungkapkan berbagai teori tentang pendidikan dalam sebuah seminar atau talkshow—dengan imabalan yang tak
sedikit—seringkali tidak peka terhadap situasi di lapangan.Tuntutan untuk memanfaatkan teknologi pendidikan untuk
memudahkan proses pembelajaran tidak relevan dengan situasi daerah tertentu,
yang belum bisa menikmati listrik seperti daerah lainnya. Puulonggida,
misalnya. Lalu, sebagian pihak yang peduli menganggap, aksi turun ke jalan dan
mengkritisi kebijakan pemerintah adalah upayak yang efektif. Faktanya, aksi
tersebut seringkali dimanfaatkan sebagai pengalihan isu-isu nasional yang lebih
penting. Ironisnya, aksi tersebut sekadar didengar dan memenuhi target deadline pada jurnalis. Tak pernah
dianggap. Maka cita-cita mulia untuk mencerdaskan bangsa membutuhkan masa yang
lebih panjang untuk terwujud.
Alangkah
bijaksana jika masalah, dengan tanggap disambut dengan upaya menganalisa
situasi untuk menemukan solusi jangka pendek. Misalnya, dimulai dari
menganalisa tantangan pendidikan hari ini. Andi Ahmadi secara sederhana
merangkumnya dalam tiga poin: distribusi guru yang tidak merata, kualiats guru,
dan minimnya—bahkan ketidaktersediaan—infrastruktur.
Tidak sulit
menemukan surplus jumlah guru di daerah perkotaan. Namun, situasi paradox
terjadi di pelosok negeri ini. Maka gerakan-gerakan seperti Kendari Mengajar
adalah langkah kecil yang diharapkan mampu mendistribusi guru-guru berkualitas
diseluruh pelosok negeri ini. Langkah kecil yang langsung dapat menjawab 2
permasalahan yang dihadapi, ungkap Andi Ahmadi lagi, mengenang pengalamannya.
Mengajar, mendidik, menginspirasi sebagai motto dari Gerakan Kendari Mengajar sangat dibutuhkan oleh bangsa kita hari ini. Semua harus dilaksanakan oleh seorang pendidik sebagai kesatuan yang padu. Jika kita hanya mendidik, maka bisa saja seorang anak bangsa putus sekolah, ketika telah menyelesaikan pendidikan pada tingkat SD atau SMP. Tapi jika kita juga menginspirasi mereka, maka mereka akan merasa tertantang untuk memenuhi mimpi-mimpi masa kecil. Cita-cita harus ditanamkan sebagai sesuatu yang wajib dimiliki. Bagi orang-orang yang berada pada zona nyaman, cita-cita merupakan hal biasa. Namun, bagi orang-orang pinggiran, cita-cita adalah sesuatu yang asing. Dan terasa sangat sulit untuk diwujudkan. Pada posisi inilah kita harus hadir. Menyebarkan optimisme dalam menghadapi kehidupan. Menularkan keinginan bermimpi, merumuskan cita-cita, dan upaya untuk terus berusaha mewujudkannya.
Masih menurut
Andi Ahmadi, Gerakan Kendari Mengajar hadir sebagai sebuah kebanggaan. Wujud
nyata andil dalam keikutsertaan memikirkan nasib bangsa ini.
“Banyak orang
yang bersedia turun tangan tapi yang bersedia untuk memikirkan hanyalah
segelintir orang. Oleh sebab itu marilah kita bersama-sama memikirkan bangsa
ini dan membangun optimisme kolektif,” tuturnya, penuh semangat.
[HSR/RAY]
[HSR/RAY]
Pengajar Muda Indonesia Sambangi Kendari Mengajar #1: Mengapa Harus MENGAJAR?
Reviewed by Unknown
on
18.23
Rating:




semangat ...........
BalasHapus