Catatan Pengajar #2: Dejavu Soeharto
Januari di penanggalan delapan belas kuawali dengan
memastikan kembali persiapan donasi buku ke Nanga-Nanga, di rumah salah seorang
volunteer Kendari Mengajar. 135 buah
buku telah dikemas ke dalam 2 buah kardus serta beberapa lembar majalah yang
dimasukkan ke dalam kantung, siap dihantar ke SDN 20 Baruga. Buku Indonesia Mengajar 2 menemaniku
menunggu teman-teman yang akan turut serta mengunjungi SDN 20 Baruga. Membaca
kata pengantar Indonesia Mengajar 2 membuatku semakin
terpanggil untuk melakukan sesuatu bagi bangsa ini. Perasaan haru seketika
menjalar ketika membaca pesan-pesan Bapak Anies Baswedan saat akan melepas pun
menyambut para Pengajar Muda di Bandara Soekarno Hatta.
Indonesia Mengajar
2 memuat tulisan para Pengajar Muda angkatan ke-2.
Kubuka lembar demi lembar pengalaman mereka. Berbagai rasa tertuang dengan
sangat indah dalam barisan kata-kata penuh makna di sana. Entah pada halaman
berapa kutemukan penggalan dialog cukup menggelitik. Isinya kurang lebih
seperti ini:
“Siapa Presiden Indonesia yang sekarang?” tanya
pengajar muda yang bertugas di tempat itu.
“Suharto, Pak,” jawab seorang murid.
Spontan saja ini membuatku senyum-senyum sendiri.
Setelah beberapa kali Indonesia berganti orde, berganti cabinet dan presiden,
Suharto tetap melekat dalam ingatan bangsa ini. Diwariskan turun temurun kepada
anak-anak mereka.
Sekitar pukul Sembilan, teman-teman Kendari Mengajar
bersiap mengunjungi Nanga-Nanga. SDN 20 Baruga dan SMP Satu Atap adalah target
kunjungan kami. Kedatangan kami bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi
Muhammad SAW yang sedang digelar di sana. Selagi asyik menyimak ceramah dari
seorang ustadz, kurasakan tasku bergetar. Sebuah pesan masuk menanyakan
kesediaanku untuk menjadi pengajar back
up, menggantikan seorang pengajar bernama Kak Lian yang sore itu
berhalangan hadir. Tugasku adalah bercerita di depan 4 orang adik asuh Puulonggida.
Tema cerita adalah seputar kerajaan atau pun pahlawan perang di Sulawesi
Tenggara. Pesan segera kubalas dengan pernyataan bersedia.
Ceramah tentang Maulid Nabi Muhammad SAW memberikan
pesan untuk meneladani sikap-sikap beliau dalam menjalani kehidupan. Penampilan
kasidah dari adik-adik SDN 20 Baruga turut meramaikan suasana. Rangkaian
kegiatan ditutup dengan pembacaan doa. Sebelum semuanya bubar, kami—tim Kendari
Mengajar—diminta untuk menyerahkan donasi secara simbolis kepada Kepala Sekolah,
yang dilanjutkan dengan sesi foto bersama. Sepanjang perjalanan pulang, kami
tak melewatkan spot-spot indah yang bisa menjadi latar dalam setiap kutipan
kamera.
Warnet menjadi tujuan pribadi selanjutnya. Aku membutuhkan
materi tentang kerajaan dan pahlawan perang di Sulawesi Tenggara. Walaupun sekadar
pengajar back up, tapi ini merupakan
episode perdana aku menjadi pengajar.
Sore harinya, saat memasuki pelataran sekolah,
telah tampak keempat adik asuh yang
dititipkan kepadaku. Mereka sedang duduk bersama Kak Ephy—salah seorang volunteer. Mereka sedang memainkan tebak-tebakan nama daerah yang ada di peta.
Kulangkahkan kaki dengan pasti ke arah mereka. Sejenak kemudian, Kak Ephy
menyerahkan adik-adik tersebut kepadaku. Untuk memudahkan proses pengajaran,
kugunakan laptop yang telah berisi presentasi materi yang akan kuberikan.
Perkenalan singkat dengan adik-adik asuhku membuatku tahu bahwa mereka sedang duduk
di bangku kelas 5 sekolah dasar. Aku pikir, tentu akan mudah saja bercerita di
depan mereka. Aku pernah melalui fase mereka. Kemampuanku jauh lebih berkembang
sekarang. Dan lagi, adik-adik asuhku tentu sudah mengetahui dasar-dasar ilmu sosial—termasuk
sejarah—yang (seharusnya) telah diajarkan saat mereka duduk di bangku kelas 3
SD.
Mereka tampak bersemangat ketika melihatku membuka
laptop. Aku memilih Kerajaan Muna sebagai
bahan bercerita. Mengingat aku terlahir sebagai bagian dari masyarakat suku
tersebut. Maka sedikit banyak, aku mengetahui perihal sejarah nenek moyang kami.
Kutampilkan peta daerah Sulawesi, lalu kuminta mereka
menunjukkan letak propinsi Sulawesi tenggara di dalam peta. Entah siapa yang
memulai, adik-adik asuhku dengan asyiknya menyebutkan suku masing-masing. Ada
yang Tolaki, Tolaki-Makassar, dan Tolaki-Jawa. Langsung saja kusambung dengan
pertanyaan, “Makassar itu di propinsi apa?”
Hening. Tak ada jawaban. Atau mungkin, tak ada yang
berani menjawab. Tapi aku keliru. Mereka tidak mengetahui jawabannya. Tidak sampai
di situ. Ada banyak hal yang tidak mereka ketahui. Termasuk propinsi-propinsi
di Pulau Sulawesi. Satu-satunya yang mereka ketahui adalah Kendari. Tanah yang
di atasnya mereka belajar berjalan, tumbuh, berlari, tertawa, mengeja
kata-kata, bermain.
Ada sesuatu yang tampak salah di sana, pikirku. Tapi aku
masih berbesar hati.
“Sebelum kita lanjut, Kakak mau tanya dulu,” aku
melanjutkan. “Ada yang pernah dengar tentang kerajaan?”
“Iya,” jawab salah seorang adik. Sedang yang lainnya hanya
mampu ber-hening cipta.
Aku semakin ingin mendengar lebih banyak dari mereka. Aku
ingin tahu hal-hal yang mereka ketahui.
“Kalau kerajaan Majapahit atau Sriwijaya?” aku
bertanya lagi.
“Oh itu,” mereka menjawab dengan serempak.
Aku mulai bersemangat. Akhirnya mereka mengetahui
sesuatu.
“Itu kalian dapatkan di kelas berapa?“
Lagi-lagi, hanya ada hening.
“Jadi,” kuhela napas dengan berat. “Tahu dari mana
tentang kerajaan tadi?”
“Cuma pernah dengar, Kak,“ jawab mereka.
Aku berjuang mengerahkan kesabaranku. Dulu, aku
mempelajari ini di kelas 4 sekolah dasar.
“Kalian ada pelajaran IPS, kah?“ tanyaku lagi.
“Tidak ada, Kak.”
“Kok bisa? Bukankah itu sudah diajarkan sejak kelas 3
SD?”
“Ya kak, tapi bukunya hilang waktu belajar pertama.”
“Jadi sampai sekarang IPS ada jadwalnya tapi tidak
pernah belajar karena tidak ada bukunya?” tanya kak Alan, seorang volunteer lain yang tertarik dengan
kelompok belajarku.
“Iya,” serempak mereka menjawab.
“Terus, kalau kelas 4 bagaimana?” aku terus mencecari mereka
dengan pertanyaan. Pada saat yang sama kepalaku terasa kosong.
“Mereka punya 2 buku, Kak.”
Semua itu, jawaban-jawaban itu, tak bisa kupahami
sedikit pun. Aku terkejut. Sangat. Tetapi masih melanjutkan untuk bercerita. Dan
akhirnya aku sadar, aku sudah kehilangan perhatian mereka. Mereka menunjukkan
sikap tak tertarik lagi dengan apa yang coba kuungkapkan dengan susah payah. Tiba-tiba
saja aku merasa gagal. Mungkin aku terlalu ofensif, sehingga mereka merasa terintimidasi. Atau mungkin mereka merasa pelajaran
itu sama sekali tidak penting. Atau mungkin, tidak seru. Aku dikuasai rasa
bersalah. Mungkin hal-hal yang kutanyakan tadi adalah hal baru bagi mereka. Mungkin
seharusnya aku memulai dengan hal paling mendasar. Kepalaku dipenuhi dengan banyak
sekali “mungkin”.
Aku masih saja tidak berhenti bertanya. Pasti ada hal
yang mereka ketahui dari ilmu sosial. Meski sedikit. Selain bahwa mereka pernah
mendengar bahwa ada yang disebut dengan Kerajaan Majapahit dan Sriwijaya di dunia ini.
“Ada yang tahu apa bentuk negara kita? Kerajaan, atau
republik, atau apa?”
Aku mendengar suaraku terbawa angin, lalu lenyap disaput keheningan yang ke sekian.
“Trus kalau pemimpin negara kita disebut apa?” aku
belum menyerah. Belum ingin. Kuberikan beberapa pilihan kepada mereka. Mereka cukup
menyebutnya secara bergantian dan mereka akan menemukan jawaban yang benar. Itulah
yang kupikirkan.
“Satu, Raja. Dua, perdana menteri. Tiga, presiden. Empat,
gubernur.”
Banyak yang melontarkan jawaban, namun tak satu pun yang
menyebut “presiden”.
Apa sebaiknya aku menyerah saja? Seharusnya tidak,
kan? Pikiran-pikiran itu berkecamuk di dalam diriku. Kupikir, aku baru saja
kehilangan seluruh energiku.
“Bentuk negara kita ini adalah republik,” aku berujar.
Sebisa mungkin bersikap tenang. “Dan dikepalai oleh seorang presiden.”
Dengan kepolosan yang sangat jauh dari kesan
dibuat-buat, mereka serempak membunyikan, “Ooohhhhh.”
Aku tersenyum maklum. “Jadi presiden kita sekarang
siapa?”
Dengan spontanitas yang penuh percaya diri, seorang adik
asuh menjawab dengan lantang, “SUHARTO!”.
Aku seperti mengalami dejavu.
Segera saja ketiga temannya meralat, bahwa
presiden republik Indonesia saat ini dijabat oleh Bapak Susilo Bambang
Yudhoyono.
“Kalau gubernur Sulawesi Tenggara siapa?” aku terus
bertanya.
Keheningan kembali menggantungi sudut-sudut koridor di depan kelas.
Berputar-putar di atas kami, di bawah plafon, dan menyentak kesadaranku. Pada akhirnya,
aku dan Kak Alanlah yang harus menjawab pertanyaanku sendiri.
Tak ada lagi antusiasme di wajah adik-adik asuhku. Kami diliputi kecanggungan yang untunglah segera teralihkan oleh berbagai topik lain. Pembacaan pantun, puisi, lantunan lagu, hingga seorang adik asuh berkata, “Kak, kunci taman baca sudah ada mi. Kita—sapaan santun yang digunakan untuk mengucapkan “kamu” kepada orang yang dihormati—bawakan mi buku.”
Tak ada lagi antusiasme di wajah adik-adik asuhku. Kami diliputi kecanggungan yang untunglah segera teralihkan oleh berbagai topik lain. Pembacaan pantun, puisi, lantunan lagu, hingga seorang adik asuh berkata, “Kak, kunci taman baca sudah ada mi. Kita—sapaan santun yang digunakan untuk mengucapkan “kamu” kepada orang yang dihormati—bawakan mi buku.”
“Oh jadi kalian mau ji membaca?”
tanyaku, dengan harapan yang tiba-tiba terbit lagi.
“Mau sekali
kak,” sahutnya dengan sungguh-sungguh. “Bawakan mi besok, nah,”
pintanya.
“Oh iye, Insya Allah,” aku berjanji.
Hari hampir berakhir. Untuk kemudian digantikan oleh
hari-hari baru yang selalunya menjanjikan kejutan. Tapi kepalaku masih dipenuhi banyak “mengapa” dan “bagaimana”.
Mengapa tak ada
buku IPS? Siapa yang punya 2 buku? Kenapa bukunya hilang? Kenapa mereka tidak
bisa meminjam buku yang 2 itu? Kenapa nama Suharto masih meninggalkan jejak absolutisme kekuasaannya di sini? Dari siapa anak-anak itu mendengar? Lantas, bagaimana
agar mereka mengetahui hal-hal yang sudah seharusnya mereka ketahui--bahwa ada
banyak propinsi di pulau Sulawesi, dan betapa setiap propinsi memiliki lebih
banyak pulau kecil lagi? Bagaimana agar mereka tahu siapa saja yang telah memimpin negeri
ini? Apakah mereka tahu bahwa negeri ini sudah merdeka setelah perang berkepanjangan? Bagaimana
harus kukatakan pada mereka bahwa mereka terlahir dari rahim bangsa yang hebat?
Dan bahwa mereka adalah simbolisasi kecil dari kehebatan itu? Jika dulu pejuang
bangsa ini merebut kemerdekaan dengan cara sederhana namun dengan semangat
juang tinggi, maka mereka adalah kesederhanaan dengan semangat yang tinggi itu.
Mereka dan pejuang bangsanya hanya dibatasi sekat generasi berlapis-lapis yang
membentangkan jarak yang sangat jauh.
Apa yang harus aku lakukan? Mereka tentu membutuhkan
pencerita. Atau sesuatu yang bisa bercerita saat tak cukup banyak pencerita
yang mampu bercerita. Mereka membutuhkan buku. Ya, buku. Mereka setidaknya
harus memiliki buku. Yang dapat mengajak mereka menjelajahi masa lalu selagi
menapakkan langkah menuju masa depan yang menjanjikan cahaya terang. Mereka butuh
mengenali muasalnya. Yang dengan itu, dapat mengantarkan mereka pada
capaian-capaian baru yang di masa depan, di abad-abad mendatang, tercatat
sebagai sejarah yang layak diwariskan kepada generasi mereka.
Aku melangkah gontai. Memikirkan sosok-sosok penuh kepedulian di luar sana, yang mungkin tergerak hati dan langkah kakinya untuk melakukan sesuatu. Demi pelita-pelita negeri ini. Kuharap, seseorang, tidak ... sebaiknya lebih banyak orang, yang kelak akan membaca tulisan ini. Dan merekalah sosok-sosok yang akan melakukan sesuatu itu.
[HSR/RAY]
Catatan Pengajar #2: Dejavu Soeharto
Reviewed by Unknown
on
19.20
Rating:
Reviewed by Unknown
on
19.20
Rating:





impressing...
BalasHapus*lap ingus :'(
Thanks, Brotha' :)
Hapus*nyodorin tissue*