Ads Top


Catatan Pengajar #5: Guru, Sebuah Pengabdian yang Tiada Batas



          Kegiatan malam amal Gerakan 1000 buku adalah titik pemicu timbulnya keinginan saya untuk bergabung ke dalam Gerakan Kendari Mengajar. Gerakan 1000 buku adalah kegiatan pengumpulan donasi buku dari masyarakat yang nantinya akan disalurkan ke daerah-daerah  yang membutuhkan. Tidak membutuhkan waktu lama, dua minggu kemudian saya memantapkan hati dan siap untuk menorehkan satu babak cerita dalam hidupku, bergabung menjadi bagian dari keluarga besar volunteer Gerakan Kendari Mengajar.

        Sabtu ,(15/03/14) adalah hari dimana pertama kalinya saya turun ke salah satu lokasi binaan Gerakan Kendari Mengajar, yaitu di Nanga-Nanga, tepatnya di SD N 20 Baruga, Kendari.  Hari itu beberapa pengajar yang semestinya bertugas menjadi pengajar berhalangan hadir, yang menyebabkan sayapun diutus untuk ikut bergabung bersama tim pengajar yang lain untuk turun ke lokasi binaan menggantikan pengajar yang berhalangan hadir. Saat itu saya diberitahu bahwa saya akan masuk dan berbagi ilmu bersama adik-adik di kelas satu SD N 20 Baruga. Sekejap rasa terkejut menghampiri, saya belum mempunyai persiapan apapun untuk berhadapan langsung di depan kelas dengan anak-anak itu, terlebih lagi untuk  berhadapan dengan anak kelas satu SD.  Rasa khawatir dan ragu menyeruak dipikiranku, beruntung setiap kelas mempunyai dua orang volunteer yang bertugas untuk memberikan pembelajaran hari itu. Pasangan saya hari itu memberikan penguatan dengan mengatakan saya tidak perlu khawatir,berhubung saya baru maka saya hanya akan bertugas membantu mengawasi anak-anak di dalam kelas. Alhamdulillah, ucapku dalam hati.

      
Dengan segenap keberanian kulangkahkan kaki  menuju ruangan kelas satu. Ketika menjejakkan langkah ke ruangan kelas satu, mental kokoh telah kusiapkan untuk menghadapi apapun kemungkinan yang bisa terjadi. Seketika itu juga dari berbagai penjuru ruangan adik-adik berlarian kearah kami, belum pulih dari rasa terkejut mereka melanjutkan aksinya dengan bergelantungan dibadan kami sambil sesekali memberikan sebuah pelukan hangat. Ah tak apalah, bukankah sebuah pelukan hangat adalah pertanda baik diawal perkenalan kami hari ini? ucapku dalam hati, saat itu.  Tidak beberapa lama kemudian, mental yang telah kusiapkan sebelumnya kembali dikejutkan oleh tingkah unik dan kocak yang dilakukan adik-adik, beberapa dari mereka tampak bersembunyi dibawah meja. Timbul sebuah pertanyaan dibenakku, apa yang mendorong mereka melakukan hal itu? Apakah karena mereka takut bertemu orang baru atau itu bagian dari tingkah normal mereka sehari-hari? Entahlah. Ketika kutolehkan pandangan ke arah lain tampak sebagian adik-adik lainnya bersiap-siap berlarian keluar kelas. Kejadian ini tak pernah sekalipun terlintas dalam bayanganku tentang seorang guru. Untuk menenangkan mereka, pengajar lain mengarahkan mereka untuk menyalurkan energi positif yang mereka punyai lewat kegiatan menggambar. Inilah pengalaman unik dan kocak yang menyambutku ketika pertama kali berinteraksi dengan wajah-wajah polos nan ceria  di kelas satu SD N 20 Baruga (Nanga-Nanga).


      
        Di minggu-minggu berikutnya saya kemudian ditetapkan menjadi salah seorang Tim Pengajar GKM di Nanga-Nanga. Mendapat kepercayaan untuk berbagi ilmu di kelas 6 SD N 20 Baruga berpartner bersama Kak Diman adalah sebuah tanggungjawab yang akan kujalankan sebagai volunteer GKM beberapa waktu ke depan.  Berbekal pengalaman di kelas satu pada minggu sebelumnya, memberikan saya kepercayaan diri yang cukup untuk menjejakkan kaki dan berhadapan dengan adik-adik di kelas 6. Masuk ke ruangan kelas dan melihat mereka  belajar sambil bersenda gurau bersama Kak Diman memacuku untuk ikut bergabung dan menjadi bagian dari tawa dan raut bahagia yang terpancar dari wajah mereka. Bersenda gurau adalah salah satu metode yang diterapkan oleh beberapa pengajar untuk mencairkan suasana didalam kelas, sehingga pembelajaran tidak terasa kaku. Mengajar adik-adik di kelas 6 tentunya mempunyai suasana yang berbeda dengan kelas satu, dari segi karakter mereka tentunya lebih tenang dan mudah diatur dibandingkan adik-adik di kelas satu. Namun, setiap kelas tentunya mempunyai tantangan  masing- masing. Sebagai tim pengajar kami harus cermat mengamati hal-hal nonteknis yang mungkin bisa berpengaruh terhadap proses belajar mengajar, misalnya ada beberapa anak yang mempunyai rasa percaya diri yang kurang, rasa minder dan lain sebagainya.
    
Menjejakkan kaki sebagai seorang pengajar di ruangan kelas SD N 20 Baruga ( Nanga-Nanga)  tak pernah terpikirkan ketika bergabung ke dalam Gerakan Kendari Mengajar. Saya hanya ingin berkontribusi nyata dalam bidang pendidikan dengan membantu melakukan kerja-kerja GKM. Tetapi kini saya bersyukur bisa mendapatkan kesempatan menjadi seorang pengajar, pengalaman ini telah menyadarkanku akan besarnya jasa seorang guru . Benarlah kiranya guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Seorang gurulah yang mengajar kita mengeja huruf menjadi sebuah kata yang akhirnya menjadi kalimat . Guru adalah simbol pengabdian,kebijaksanaan dan kesabaran yang tiada batasnya. Pengalaman ini juga mengajarkanku bahwa menjadi seorang pengajar, khasanah keilmuwan bukanlah satu-satunya hal yang harus kita kuasasi, tapi yang tidak kalah penting adalah bagaimana kita bisa menciptakan relasi sosial yang mengedepankan unsur kekeluargaan , seperti halnya antara kami dan adik-adik kami. Bagaimana mereka bisa melihat kami bukan hanya sebagai pengajar, tapi juga seorang kakak. Seorang kakak yang tidak akan pernah lelah membimbing adiknya menggapai mimpi-mimpi tertingginya, kakak yang tak henti-hentinya memberikan motivasi untuk meraih dunia, yang kelak akan mereka kenang sebagai memoar indah  dalam kehidupan mereka, yang tentunya juga akan kami kenang sebagai salah satu cerita abadi sebagai seorang volunteer di Gerakan Kendari Mengajar. (MU/AN)
Catatan Pengajar #5: Guru, Sebuah Pengabdian yang Tiada Batas Catatan Pengajar #5: Guru, Sebuah Pengabdian yang Tiada Batas Reviewed by Unknown on 22.44 Rating: 5

Tidak ada komentar


close